Di mana-mana, setiap membangun sebuah gedung gereja baru selalu ada banyak cerita. Keistimewaan pembangunan sebuah gedung gereja adalah tidak hanya pada cerita-ceritanya tentang begitu banyak orang yang memberikan bantuan dengan berbagai macam intensi, tetapi juga di dalam cerita-cerita itu perselisihan dan salah paham antara pastor dan panitia, atau antara panita dan umat, atau antara pastor dan umat seringkali digambarkan secara apa adanya.
Tuntutan Katolisitas
Gedung-gedung gereja yang besar dan mewah yang sering kita temukan di mana-mana, diceritakan dengan bangga bagaimana umat berpartisipasi dalam proses pembangunannya, sehingga kita pun dapat mendengar tidak hanya kisah-kisah gembiranya saja, tetapi juga saat-saat yang kurang menggembirakan dari pastor, panitia, pengurus wilayah, pengurus lingkungan, dan umat. Sekarang, umat Paroki Santo Kristoforus Jelambar sedang berkonsentrasi membangun gedung gereja Stasi Santo Polikarpus Grogol. Di antara umat sudah terdengar bagaimana dinamika kerja dan usaha dari semua pihak seperti pastor, panitia, pengurus wilayah, pengurus lingkungan, pengurus seksi, dan pengurus kategorial. Ada kisah yang menggembirakan, juga ada kisah-kisah yang tak menyenangkan. Meski demikian, pada akhirnya kita dapat memperoleh refleksi-refleksi dari berbagai pengalaman dan hambatan umat dalam proses kerja sama. Apalagi, justru dengan cerita dan pengalaman tersebut kita bisa merasakan kedekatan kita sebagai sesama umat Katolik dengan tuntutan katolisitas itu sendiri bahwa kita sendiri dan kita semua bertanggung jawab membangun sebuah gedung gereja baru.
Pelayanan sebagai Perjanjian
Tuntutan katolisitas ini menjadi sebuah gambaran tentang posisi yang perlu dihayati oleh bakal calon umat Stasi Santo Polikarpus Grogol dan umat Paroki Santo Kristoforus Grogol secara umum. Sikap tanggung jawab pada pembangunan gedung Gereja Stasi Polikarpus mencerminkan spiritualitas katolisitas yang melekat pada kita.
Berdasarkan refleksi atas tuntutan katolisitas yang melekat pada semua umat katolik tadi, kita patut menyadari betapa peran sebagai gembala (baca pastores), panitia, pengurus wilayah, pengurus lingkungan, pengurus seksi/subseksi/ dan pengurus kategorial membawa kita pada penghayatan bahwa kita ini bagaikan seseorang yang sedang berjanji memenuhi perjanjian dengan Tuhan untuk “bekerja”.
Membangun sikap solidaritas dan keterlibatan semua pihak dalam upaya pembangunan gedung gereja Stasi Santo Polikarpus Grogol mengandaikan semua yang “bekerja” menjaga kepercayaan dan harapan umat untuk membangun gedung gereja tersebut. Tapi, solidaritas, keterlibatan, kepercayaan, dan harapan bukanlah hal-hal yang senantiasa mudah dibentuk dan diproses di tengah umat. Tidak berlebihan pula bila dikatakan bahwa jika di tengah situasi demikian gembala (pastores) tidak tampil sebagai motivator, fasilitator, guru, dan nabi, maka banyak umat paroki tidak mengambil bagian pada solidaritas dan partisipasi untuk pembangunan tersebut.
Kemandirian
Seperti yang diutarakan oleh Santo Petrus dalam penggembalaannya bahwa Gereja bersifat MANDIRI. Kemandirian berarti kehadiran sebuah (gedung) Gereja dari umat, oleh umat, dan untuk umat. Pembangunan sebuah gedung (Gereja) memiliki 3 (tiga) elemen yang saling mengandaikan. Pertama, bentuk fisik gereja perlu dibangun atas dasar konsep naturalitas bukan suatu keterpaksaan, sehingga fisik gereja harus disesuaikan dengan keberadaan umat gereja local. Hal ini berarti bentuk fisik gereja merupakan representasi dari kemampuan umat, jumlah umat dan kapasitas koneksitasnya.
Kedua, membangun gereja berarti juga membangun umat, sehingga perlu persiapan lahir batin bagi umat yang kelak menempati gerejanya, perlu suatu kesatuan hati dan jiwa (cor unum et anima una). Semangat kesatuan ini harus dipancarkan sejak gereja tersebut mulai dibangun. Ketiga, dengan membangun gereja berarti membangun habitus baru sebuah lingkungan, baik lingkungan di gereja sendiri maupun di sekitar gereja, terutama dalam hubungan dengan umat antar agama dan kehidupannya, tidak dilupakan juga hubungan antara umat dan alam sekitarnya. Konsekuensinya adalah semua pihak yang telibat dalam perjanjian ”bekerja” berusaha bagaimana kehadiran gereja juga dirasakan manfaatnya bukan hanya oleh umat gereja sendiri, tetapi juga bagi warga masyarakat dan lingkungan di sekitar gereja.
Penyelamat
Selain memiliki kemandirian, gereja yang dibangun juga dapat menyelamatkan umat. Pastoral “Gembala Baik” merupakan fondasinya. Pastoral “Gembala baik “ harus menjawab persoalan kehausan dan kerinduan umat akan spiritualas Kristiani yang dalam realitas kehidupan harian. Persaudaraan, solidaritas, disiplin, teguran merupakan buah-buah dari pastoral gembala baik. Kemandirian umat untuk bertahan hidup dan berkorban demi Gereja amat bergantung pada kekuatan pastoral gembala baik. Dalam konteks pembangunan gedung Gereja Stasi Santo Polikarpus Grogol, cepat atau lambatnya, amat bergantung pada kekuatan pastoral gembala baik. Pastoral gembala baik membuat semua orang tersentuh dan menjadi peka untuk bergerak memikirkan partisipasi apa yang sesuai dengan kapasitas masing-masing. Pastor gembala baik, juga merupakan aplikasi relasi antara pokok dan ranting anggur. Semakin detil program gembala baik, semakin banyak ranting yang utuh.
Liturgis dan Misioner
Fungsi gereja dimulai dari kegiatan Liturgis. Sebab, liturgi gereja katolik sebagai sumber dan puncak kehidupan (fons et culmen). Liturgi itu tidak bisa dipisahkan dari gereja itu sendiri. Itu berlangsung sepanjang sejarah penyelamatan manusia. Tapi, Jaman reformasi banyak umat keberatan sehingga merombak kehidupan liturgis menjadi kehidupan kerohanian saja, tata cara dan tradisi dianggap menghambat pertumbuhan gereja bahkan pertumbuhan jiwa yang cenderung kepada konotasi animism. Kemampuan misionaris pun boleh di bilang tidak memiliki arti karena dianggap kehidupan biasa saja sudah lebih dari cukup. Kekuatan sakramen bukan lagi unsur penyelamatan.
Tetapi, tradisi Gereja menekankan bahwa setiap pembangunan gereja sudah ditanamkan kemampuan akan menjalankan Liturgis secara benar dan terarah. Gereja Stasi Santo Polikarpus sungguh beruntung karena tumbuh di daerah subur. Mengapa? infrastrukturnya sudah terbentuk dengan baik. Berbeda dengan beberapa gereja-gereja yang dibangun di daerah-daerah lain di Indonesia yang belum ada jalan, listrik, air bahkan hunian.
Salah satu penyebab sirnanya Liturgi gereja adalah terpenuhinya segala kebutuhan hidup. Sikap materialisme mengesampingkan peran gereja. Begitu banyaknya kebutuhan akan materi membuat permintaan kebutuhan dana bagi Gereja merupakan sebuah beban. Seperti ungkapan seorang ibu kepada saya “Membangun gereja kenapa umat yang harus di bebani dengan pembiayaannya?” . Komentar lainnya dari kakak saya yang seorang pendeta senior : “Membangun gereja bukan dengan tangan, tetapi dengan lutut”. Dua komentar ini bertolak belakang. Tangan dianggap bagian tubuh yang penting sedangkan lutut fungsinya apa kecuali hanya bagian penopang yang saat duduk sudah tidak berguna lagi.
Pembangunan sebuah gedung gereja bukan hanya dilihat dari pembangunan fisik saja, tetapi sebuah perayaan “perjamuan” bersama. Pembangunan itu sendiri merupakan sumber kegembiraan karena merupakan dari umat, oleh umat dan untuk umat. Jadi, jika ada umat yang merasa terbebani perlu kiranya semua pengurus dewan paroki merefleksikan bersama situasi ini.
Refleksi akan berlanjut ketika ada penolakan terhadap kehadiran gedung gereja di tengah masyarakat. Penolakan itu bisa berupa lemparan baru dan pemalakan. Siapa yang bertanggung jawab? Mungkin kita terlalu berambisi membangun gedung gereja, tapi kita lupa membangun fondasi dialog dan kerukunan, baik antar umat sendiri, maupun dengan warga beragama lain. Dalam konteks kesenjangan antara pembangunan fisik dan persaudaraan ungkapan rekan saya pantas menjadi bahan diskusi : “Membangun gereja itu jangan buru-buru sebaiknya ditarik sepanjang mungkin, kalau bisa 5 tahun atau 10 tahun, semakin panjang gereja dibangun semakin kuat umat merasa memiliki gereja tersebut, semakin lama gereja dibangun umat semakin merasakan ringan pembiayaannya karena tidak harus terbebani oleh biaya-biaya yang berat dalam kehidupan sehari-hari “
Kelompok Santo POLIKARPUS
Kebutuhan kebutuhan yang tersirat dalam tulisan diatas memberikan inspirasi saya untuk memberikan inovasi pada struktur kelompok pencari dana atau tim-dana, di mana kita ketahui bahwa 4 (empat) kelompok utama, yakni Santo Matius, Santo Yohanes, Santo Lukas dan Santo Markus yang bekerja secara SISTEMIK, Organisatoris dan terarah. Sebaliknya Kelompok Santo KRISTOFORUS yang dipertegas dan diganti namanya menjadi SANTO POLOKARPUS akan menekankan sistim kerja secara SPORADIS dan fleksibel sesuai situasi dan kondisi tertentu di mana saja. Kelompok Santo Polikarpus ini, misalnya, mengadakan doa-doa tematis, misa-misa khusus, dan memberikan masukan-masukan demi menciptakan sarana dan dampak bagi pengumpulan dana. Dalam kelompok Santo Polikarpus peran para PASTOR akan sangat dominan. Mereja menjadi sumber informasi, citra dan kehidupan gereja baru. Selain, itu Kelompok Santo Polikarpus ini bertanggung jawab memberikan sosialisasi agar denyut pembangunan gedung gereja Stasi St. Polikarpus ini perlu dirasakan bukan hanya oleh umat Paroki Santo Kristoforus atau umat yang berada di Keuskupan Agung Jakarta saja, tetapi juga oleh umat Katolik sedunia, itulah arti KATOLIK–saya menyebutnya UNIVERSAL dan INTERNATIONAL. (Adharta Ongkosaputra)