PESAN BAPA SUCI YOHANES PAULUS II PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-39
Hal ini tidak hanya terjadi dengan kata-kata yang diucapkan oleh seseorang kepada orang yang lain, melainkan juga berlaku dalam segala bentuk komunikasi. Teknologi modern memberikan kepada kita kemungkinan dan peluang yang tiada tara untuk perbuatan-perbuatan baik, untuk menyebarkan kebenaran keselamatan dalam Yesus Kristus serta untuk memelihara harmoni dan rekonsiliasi. Namun demikian penyalahgunaannya bisa membawa kerugian yang tak terperikan, dengan menimbulkan salah pengertian, prasangka-prasangka buruk, bahkan konflik. Tema yang dipilih pada kesempatan Hari Komunikasi Sedunia Ke-39-Media Komunikasi: Untuk Membangun Saling Pengertian"-membahas sebuah kebutuhan yang urgen, yakni untuk mengembangkan persatuan keluarga manusia dengan mendayagunakan sumber-sumber daya yang begitu besar.
2. Salah satu jalan yang penting untuk mencapai tujuan itu adalah pendidikan. Media dapat mengajar bertrilyun-trilyun manusia tentang wilayah-wilayah dunia yang lain serta kultur budaya yang lain. Cukup beralasan kalau media komunikasi disebut "Areopagus abad modern yang pertama . karena bagi banyak orang telah menjadi sarana-sarana utama untuk informasi dan pendidikan, tuntunan dan ilham dalam tingkah laku mereka sebagai pribadi, keluarga-keluarga, dan di tengah masyarakat luas" (Redemptoris Missio, 37). Pengetahuan yang tepat mengembangkan saling pengertian, mengusir purba sangka, dan membangkitkan hasrat untuk belajar lebih banyak lagi. Gambar-gambar secara khusus mempunyai kekuatan untuk menanamkan kesan yang tahan lama dan untuk membentuk sikap. Media mengajar orang bagaimana memandang kelompok dan bangsa lain, secara lembut mempengaruhi bagaimana bangsa lain diperlakukan entah sebagai teman atau musuh, sekutu atau lawan.
Ketika orang lain digambarkan dalam istilah-istilah permusuhan, benih-benih konflik telah disemaikan yang bisa dengan mudah meningkat dalam tindak kekerasan, peperangan, bahkan pembasmian suatu bangsa. Bukannya untuk membangun rasa persatuan dan saling pengertian, media bisa dipakai untuk mempersetankan kelompok-kelompok suku, agama, ras, dan antar golongan yang lain, dengan menghembuskan ketakutan dan kebencian. Mereka yang bertanggung-jawab dalam menentukan bentuk dan isi pesan yang dikomunikasikan mempunyai kewajiban yang berat untuk menjamin agar hal-hal di atas tidak terjadi. Sungguh, media mempunyai potensial yang begitu besar untuk mengajukan perdamaian dan membangun jembatan-jembatan antar bangsa, mematahkan lingkaran kekerasan yang fatal, balas dendam, dan tindak kekerasan yang baru yang begitu meluas dewasa ini. Menggunakan kata-kata St. Paulus, yang menjadi dasar bagi Pesan dalam rangka Hari Perdamaian Sedunia pada tahun ini: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan" (Rom 12:21).
3. Sumbangan dalam menciptakan perdamain itulah merupakan salah satu cara bagaimana media dapat mempersatukan umat manusia, sedangkan yang lain adalah pengaruhnya dalam memperlancar mobiliasi dana ketika terjadi bencana alam. Begitu membesarkan hati ketika melihat bagaimana komunitas internasinal begitu sigap bertindak menghadapi bencana tsunami baru-baru ini yang menelan korban yang tiada tara. Kecepatan tersebarnya berita dewasa ini tentu saja meningkatkan kemungkinan untuk mengambil tindakan praktis dan tepat waktu dalam memberikan bantuan secara maksimal. Dengan cara ini media dapat menghasilkan perbuatan-perbuatan baik yang begitu besar.
4. Konsili Vatikan II mengingatkan kita: "Untuk menggunakan media dengan tepat, sungguh perlulah bahwa siapa saja yang memakainya mengetahui norma-norma moral, dan di bidang itu mempraktekkanya dengan setia" (Inter Mirifica, 4).
Norma moral yang dasar adalah: "Pribadi manusia dan komunitas umat manusia adalah tujuan dan ukuran dari penggunaan media komunikasi sosial; komunikasi harus oleh pribadi-pribadi, ditujukan kepada pribadi-pribadi, dan demi perkembangan pribadi-pribadi itu seutuhnya" (Ethics in Communications, 21). Maka lebih dahulu para insan komunikasi sendiri perlu mempraktekkan di dalam kehidupan mereka sendiri nilai-nilai serta sikap-sikap yang akan mereka tanamkan kepada orang lain sebagai bagian dari panggilan mereka. Khususnya, di situ harus termasuk kesediaan mereka untuk sungguh-sungguh melibatkan diri pada kebaikan umum-yang tidak hanya terbatas pada kepentingan-kepentingan yang sempit baik dari kelompok maupun bangsa tertentu, tapi memeluk kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan semua, kebaikan seluruh keluarga manusia (bdk. Pacem in Terris, 132). Para insan komunikasi mempunyai kesempatan untuk mengangkat budaya kehidupan yang sejati dengan menjauhkan diri dari konspirasi melawan kehidupan (bdk. Evangelium Vitae, 17) dan mewartakan kebenaran tentang nilai dan martabat setiap pribadi.
5. Model dan pola segala komunikasi terdapat dalam Sabda Allah sendiri. "Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya (Ibr 1:1). Sabda yang Menjelma telah mengikat suatu perjanjian baru antara Allah dengan rakyat-Nya-sebuah perjanjian yang juga mempersatukan kita satu sama lain dalam komunitas. "Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan" (Ef 2:14).
Saya berdoa pada Hari Komunikasi Sedunia tahun ini semoga para insan media memainkan peran mereka dalam merobohkan tembok-tembok pemisah perseteruan di dunia kita, tembok-tembok yang memisahkan penduduk dan bangsa satu dari yang lainnya, dengan menyuapkan salah pengertian dan kecurigaan. Semoga mereka menggunakan segala sumber daya yang ada dalam tangan mereka untuk mempererat ikatan-ikatan perhabatan dan cinta yang dengan jelas menandakan awal dari Kerajaan Allah di sini di bumi.
Vatikan, 24 Januari 2005, pada Pesta St. Fransiskus de Sales
Yohanes Paulus II Komentar
|