1. Dalam
Surat St. Yakobus kita baca "Dari mulut yang sama keluar berkat dan kutuk.Hal ini,
saudara-saudariku, tidak boleh demikian terjadi" (Yak 3:10).Kitab Suci mengingatkan kepada kita bahwa kata-kata mempunyai
kekuatan yang luarbiasa untuk mempersatukan orang atau untuk memecah-belah,
untuk mempererat ikatan persaudaraan atau untuk mengundang perseteruan.
Hal ini tidak hanya terjadi
dengan kata-kata yang diucapkan oleh seseorang kepada orang yang lain, melainkan juga berlaku dalam segala bentuk komunikasi.
Teknologi
modern memberikan kepada kita kemungkinan dan peluang yang tiada tara untuk perbuatan-perbuatan
baik, untuk menyebarkan kebenaran keselamatan dalam Yesus Kristus serta untuk
memelihara harmoni dan rekonsiliasi. Namun
demikian penyalahgunaannya bisa membawa kerugian yang tak terperikan, dengan
menimbulkan salah pengertian, prasangka-prasangka buruk, bahkan konflik.
Tema yang dipilih pada kesempatan Hari Komunikasi Sedunia Ke-39-Media
Komunikasi: Untuk Membangun Saling Pengertian"-membahas sebuah kebutuhan
yang urgen, yakni untuk mengembangkan persatuan keluarga manusia dengan
mendayagunakan sumber-sumber daya yang begitu besar.
2. Salah satu jalan yang
penting untuk mencapai tujuan itu adalah pendidikan. Media dapat mengajar
bertrilyun-trilyun manusia tentang wilayah-wilayah dunia yang lain serta kultur budaya yang lain. Cukup beralasan
kalau media komunikasi disebut "Areopagus abad modern yang pertama .
karena bagi banyak orang telah menjadi sarana-sarana utama untuk informasi dan
pendidikan, tuntunan dan ilham dalam tingkah laku mereka sebagai pribadi,
keluarga-keluarga, dan di tengah masyarakat luas" (Redemptoris Missio,
37).Pengetahuan yang tepat mengembangkan saling
pengertian, mengusir purba sangka, dan membangkitkan hasrat untuk belajar lebih
banyak lagi.Gambar-gambar secara khusus mempunyai
kekuatan untuk menanamkan kesan yang tahan lama dan untuk membentuk sikap.
Media mengajar orang bagaimana memandang kelompok dan bangsa lain, secara
lembut mempengaruhi bagaimana bangsa lain diperlakukan entah sebagai teman atau
musuh, sekutu atau lawan.
Ketika orang lain digambarkan dalam istilah-istilah permusuhan,
benih-benih konflik telah disemaikan yang bisa dengan mudah meningkat dalam
tindak kekerasan, peperangan, bahkan pembasmian suatu bangsa. Bukannya untuk membangun rasa persatuan dan saling pengertian,
media bisa dipakai untuk mempersetankan kelompok-kelompok suku, agama, ras, dan
antar golongan yang lain, dengan menghembuskan ketakutan dan kebencian.Mereka yang bertanggung-jawab dalam menentukan bentuk dan isi pesan
yang dikomunikasikan mempunyai kewajiban yang berat untuk menjamin agar hal-hal
di atas tidak terjadi.Sungguh, media mempunyai potensial
yang begitu besar untuk mengajukan perdamaian dan membangun jembatan-jembatan
antar bangsa, mematahkan lingkaran kekerasan yang fatal, balas
dendam, dan tindak kekerasan yang baru yang begitu meluas dewasa ini.
Menggunakan kata-kata St. Paulus, yang menjadi dasar bagi Pesan dalam rangka
Hari Perdamaian Sedunia pada tahun ini: "Janganlah kamu kalah terhadap
kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan" (Rom 12:21).
3. Sumbangan dalam
menciptakan perdamain itulah merupakan salah satu cara
bagaimana media dapat mempersatukan umat manusia, sedangkan yang lain adalah
pengaruhnya dalam memperlancar mobiliasi dana ketika terjadi bencana alam.
Begitu membesarkan hati ketika melihat bagaimana komunitas internasinal begitu
sigap bertindak menghadapi bencana tsunami baru-baru ini yang menelan korban
yang tiada tara. Kecepatan tersebarnya berita dewasa ini tentu saja meningkatkan
kemungkinan untuk mengambil tindakan praktis dan tepat waktu dalam memberikan
bantuan secara maksimal. Dengan cara ini media dapat
menghasilkan perbuatan-perbuatan baik yang begitu besar.
4. Konsili Vatikan II
mengingatkan kita: "Untuk menggunakan media dengan tepat, sungguh perlulah
bahwa siapa saja yang memakainya mengetahui norma-norma moral, dan di bidang
itu mempraktekkanya dengan setia" (Inter Mirifica, 4).
Norma moral yang dasar
adalah: "Pribadi manusia dan komunitas umat manusia adalah tujuan dan
ukuran dari penggunaan media komunikasi sosial; komunikasi harus oleh
pribadi-pribadi, ditujukan kepada pribadi-pribadi, dan demi perkembangan
pribadi-pribadi itu seutuhnya" (Ethics in Communications, 21). Maka
lebih dahulu para insan komunikasi sendiri perlu mempraktekkan di dalam
kehidupan mereka sendiri nilai-nilai serta sikap-sikap yang akan
mereka tanamkan kepada orang lain sebagai bagian dari panggilan mereka. Khususnya, di situ harus termasuk kesediaan mereka untuk
sungguh-sungguh melibatkan diri pada kebaikan umum-yang tidak hanya terbatas
pada kepentingan-kepentingan yang sempit baik dari kelompok maupun bangsa
tertentu, tapi memeluk kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan semua,
kebaikan seluruh keluarga manusia (bdk.Pacem in Terris,
132).Para insan komunikasi mempunyai kesempatan untuk mengangkat budaya
kehidupan yang sejati dengan menjauhkan diri dari konspirasi melawan kehidupan
(bdk.Evangelium Vitae, 17) dan mewartakan kebenaran tentang nilai
dan martabat setiap pribadi.
5. Model dan pola segala
komunikasi terdapat dalam Sabda Allah sendiri. "Setelah pada zaman dahulu
Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara
kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir
ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya (Ibr 1:1). Sabda
yang Menjelma telah mengikat suatu perjanjian baru antara Allah dengan
rakyat-Nya-sebuah perjanjian yang juga mempersatukan kita satu sama lain dalam komunitas. "Karena
Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang
telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan" (Ef 2:14).
Saya
berdoa pada Hari Komunikasi Sedunia tahun ini semoga para insan media memainkan
peran mereka dalam merobohkan tembok-tembok pemisah perseteruan di dunia kita,
tembok-tembok yang memisahkan penduduk dan bangsa satu dari yang lainnya,
dengan menyuapkan salah pengertian dan kecurigaan.Semoga mereka
menggunakan segala sumber daya yang ada dalam tangan mereka untuk mempererat
ikatan-ikatan perhabatan dan cinta yang dengan jelas menandakan awal dari
Kerajaan Allah di sini di bumi.
Vatikan, 24 Januari 2005,
pada Pesta St. Fransiskus de Sales
Kota Vatikan
Sahabat-sahabat Umat Islam yang terkasih,
1. Sungguh merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi saya untuk dapat menyampaikan kepada Anda sekalian, salam persahabatan yang hangat dari Dewan Kepausan Untuk Dialog Antar Umat Beragama, pada kesempatan Hari Raya Anda yang membahagiakan, yakni Hari Raya Idul Fitri, yang mengakhiri ibadat puasa dan doa sepanjang bulan Ramadan. Bulan ini selalu merupakan suatu masa yang penting bagi masyarakat Muslim dan memberi kepada setiap umatnya kekuatan baru bagi keberadaannya, baik secara pribadi, secara kekeluargaan, maupun secara sosial. Sangatlah penting bahwa setiap orang memberikan kesaksian hidup keagamaannya melalui hidup yang senantiasa semakin utuh dan menyatu dengan rencana sang Pencipta, dalam keprihatinan untuk saling memberikan pelayanan kepada sesama saudara, dalam solidaritas dan persaudaraan yang semakin meluas dengan umat dari agama-agama lain dan dengan semua orang yang berkehendak baik, dalam kerinduan untuk bekerjasama demi mencapai kesejahteraan bersama.
2. Dalam masa penuh gejolak yang kita alami sekarang ini, umat beragama yang beriman, sebagai hamba-hamba Yang Mahakuasa, berkewajiban di atas segala-galanya untuk bekerja demi perdamaian, dengan menghargai keyakinan masing-masing pribadi serta komunitas-komunitas di manapun, dengan menghayati kebebasan beragama. Kebebasan beragama, yang semestinya tidak dapat direduksikan hanya sebatas kebebasan beribadat, adalah salah satu dari aspek-aspek esensial kebebasan hati-nurani, yang adalah hak dari setiap individu dan menjadi batu sendi dari hak-hak azasi manusia. Hal yang patut diperhitungkan adalah: tuntutan bahwa suatu budaya damai dan solidaritas antarmanusia dapat dibangun, di mana setiap orang dengan teguh dapat terlibat untuk membangun masyarakat persaudaraan yang semakin meluas, sambil melaksanakan apa saja yang setiap orang dapat lakukan, untuk membuang, menyangkal dan menolak setiap tindak kekerasan, yang pasti tidak akan pernah dianjurkan oleh agama manapun, karena hal itu sama artinya dengan mencemarkan gambaran citra Allah yang ada pada manusia. Kita semua mengetahui, bahwa kekerasan, terutama terorisme yang menyerang secara membabi-buta dan menelan begitu banyak korban tak berdosa, sama sekali tidak dapat menyelesaikan konflik melainkan hanya membawa kepada belenggu mematikan dari kebencian yang merusak dan kepada penghancuran umat manusia serta masyarakat.
3. Sebagai umat beragama yang beriman, adalah kewajiban kita semua untuk menjadi pembina-pembina perdamaian, hak-hak azasi manusia dan kebebasan yang menghargai setiap pribadi, tetapi juga untuk menjamin semakin kuatnya ikatan-ikatan sosial yang ada, karena setiap orang harus memperhatikan saudara dan saudarinya tanpa diskriminasi. Dalam masyarakat kenegaraan tidak seorangpun boleh dikucilkan oleh karena alasan kesukuan, keagamaan, atau karena kekarakteristikan lain manapun. Bersama-sama, sebagai warga dari pelbagai tradisi agama yang berbeda-beda, kita semua dipanggil untuk menyebar-luaskan suatu ajaran yang menghormati semua manusia sesama ciptaan, suatu warta cinta-kasih baik antar-pribadi maupun antar-bangsa. Secara khusus kita semua bertanggungjawab untuk menjamin, bahwa kaum muda kita yang akan memegang tanggungjawab atas dunia masa depan kita kelak, dibina dalam semangat yang sedemikian itu. Pertama-tama hal ini menjadi tanggungjawab keluarga-keluarga, kemudian juga mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan, dan tentu saja juga para pemuka masyarakat, baik sipil maupun keagamaan. Mereka inilah yang berkewajiban untuk memperhatikan penyebar-luasan ajaran yang benar. Mereka inilah yang harus mengupayakan, agar setiap orang mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan lingkungannya yang khas, terutama pendidikan kemasyarakatan, yang mengundang setiap orang muda untuk menghargai mereka yang ada di sekitarnya dan untuk memandang mereka sebagai saudara dan saudarinya, sebab dengan merekalah ia dipanggil untuk hidup bersama setiap hari, bukan dengan sikap acuh-tak-acuh, melainkan justru dengan memberikan perhatian sebagai saudara. Dengan demikian, menjadi lebih mendesak dari masa sebelumnya mengajarkan kaum muda nilai-nilai fundamental kemanusiaan dan akhlak yang sangat penting bagi kehidupan pribadi dan komunitas. Oleh karena itu, juga segala bentuk ketidak-adaban yang terjadi harus dikaji untuk mengingatkan kaum muda akan apa yang menanti mereka dalam kehidupan sosial mereka kemudian hari. Yang dipertaruhkan di sini adalah kesejahteraan- bersama masyarakat, bahkan kesejahteraan- bersama seluruh dunia.
4. Dalam semangat yang seperti itulah upaya dan peningkatan dialog antara Umat Kristiani dan Umat Islam harus dianggap penting, baik dari sudut pandang pembinaan maupun dari sudut pandang budaya. Dengan demikian maka dapat dikerahkanlah segala kekuatan untuk pelayanan bagi umat manusia dan kemanusiaan, sehingga kaum muda tidak menjadi kotak-kotak budaya atau agama yang bertentangan satu sama lain, melainkan menjadi sungguh-sungguh saudara dan saudari dalam kemanusiaan. Dialog adalah sarana yang dapat membantu kita untuk melepaskan diri dari lingkaran konflik yang tak berujung dan pelbagai ketegangan yang menandai masyarakat kita saat ini, sehingga semua bangsa dapat hidup dalam ketenangan dan kedamaian serta dengan saling menghargai dan terpadu dalam keharmonisan di antara kelompok-kelompok yang membentuk mereka. Untuk mencapai hal ini, dengan tulus hati saya menghimbau Anda sekalian untuk memperhatikan dengan saksama, apa yang saya sampaikan di atas, sehingga dengan adanya saling pertemuan dan pertukaran, Umat Kristiani dan Umat Islam akan bekerjasama dalam penghargaan satu terhadap yang lain demi terwujudnya perdamaian dan demi masa depan yang lebih baik bagi semua bangsa. Hal itu akan menjadi suatu contoh bagi kaum muda kita masa kini, contoh yang akan mereka ikuti dan teladani. Dengan demikian merekapun akan mendapatkan kepercayaan yang segar terhadap masyarakat dan melihat keuntungan bahwa mereka telah termasuk dan turut mengambil bagian dalam transformasi ini. Bagi merekapun pembinaan dan keteladanan akan menjadi sumber pengharapan bagi masa depan.
5. Inilah yang menjadi harapan hangat yang dapat saya bagikan kepada Anda sekalian, yakni: bahwa Umat Kristiani dan Umat Islam akan terus melanjutkan peningkatan hubungan yang semakin akrab dan konstruktif, untuk dapat saling membagikan kekayaan khas masing-masing, dan bahwa keduanya akan sungguh memperhatikan mutu kesaksian dari Umat beriman mereka masing-masing. Sahabat-sahabat Umat Islam yang terkasih, sekali lagi saya menghaturkan salam terhangat saya pada saat Hari Raya Anda ini dan saya berdoa kepada Allah Raja Damai dan Belaskasih agar menganugerahkan kepada Anda semua kesehatan yang baik, kedamaian dan kemakmuran.
Jean-Louis Kardinal Tauran
Ketua
Uskup Agung Pier Luigi Celata
Sekretaris