DEWAN KEPAUSAN UNTUK DIALOG ANTAR UMAT BERAGAMA KRISTIANI
DAN UMAT ISLAM DIPANGGIL UNTUK MEMAJUKAN BUDAYA DAMAI
PESAN UNTUK AKHIR BULAN RAMADAN IDUL FITRI 1428 H./2007 ( +/- )

Kota Vatikan

Sahabat-sahabat Umat Islam yang terkasih,

1.      Sungguh merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagi saya untuk dapat menyampaikan kepada Anda sekalian, salam persahabatan yang hangat dari Dewan Kepausan Untuk Dialog Antar Umat Beragama, pada kesempatan Hari Raya Anda yang membahagiakan, yakni Hari Raya Idul Fitri, yang mengakhiri ibadat puasa dan doa sepanjang bulan Ramadan. Bulan ini selalu merupakan suatu masa yang penting bagi masyarakat Muslim dan memberi kepada setiap umatnya kekuatan baru bagi keberadaannya, baik secara pribadi, secara kekeluargaan, maupun secara sosial. Sangatlah penting bahwa setiap orang memberikan kesaksian hidup keagamaannya melalui hidup yang senantiasa semakin utuh dan menyatu dengan rencana sang Pencipta, dalam keprihatinan untuk saling memberikan pelayanan kepada sesama saudara, dalam solidaritas dan persaudaraan yang semakin meluas dengan umat dari agama-agama lain dan dengan semua orang yang berkehendak baik, dalam kerinduan untuk bekerjasama demi mencapai kesejahteraan bersama.

2.      Dalam masa penuh gejolak yang kita alami sekarang ini, umat beragama yang beriman, sebagai hamba-hamba Yang Mahakuasa, berkewajiban di atas segala-galanya untuk bekerja demi perdamaian, dengan menghargai keyakinan masing-masing pribadi serta komunitas-komunitas di manapun, dengan menghayati kebebasan beragama. Kebebasan beragama, yang semestinya tidak dapat direduksikan hanya sebatas kebebasan beribadat, adalah salah satu dari aspek-aspek esensial kebebasan hati-nurani, yang adalah hak dari setiap individu dan menjadi batu sendi dari hak-hak azasi manusia. Hal yang patut diperhitungkan adalah: tuntutan bahwa suatu budaya damai dan solidaritas antarmanusia dapat dibangun, di mana setiap orang dengan teguh dapat terlibat untuk membangun masyarakat persaudaraan yang semakin meluas, sambil melaksanakan apa saja yang setiap orang dapat lakukan, untuk membuang, menyangkal dan menolak setiap tindak kekerasan, yang pasti tidak akan pernah dianjurkan oleh agama manapun, karena hal itu sama artinya dengan mencemarkan gambaran citra Allah yang ada pada manusia. Kita semua mengetahui, bahwa kekerasan, terutama terorisme yang menyerang secara membabi-buta dan menelan begitu banyak korban tak berdosa, sama sekali tidak dapat menyelesaikan konflik melainkan hanya membawa kepada belenggu mematikan dari kebencian yang merusak dan kepada penghancuran umat manusia serta masyarakat.

3.      Sebagai umat beragama yang beriman, adalah kewajiban kita semua untuk menjadi pembina-pembina perdamaian, hak-hak azasi manusia dan kebebasan yang menghargai setiap pribadi, tetapi juga untuk menjamin semakin kuatnya ikatan-ikatan sosial yang ada, karena setiap orang harus memperhatikan saudara dan saudarinya tanpa diskriminasi. Dalam masyarakat kenegaraan tidak seorangpun boleh dikucilkan oleh karena alasan kesukuan, keagamaan, atau karena kekarakteristikan lain manapun. Bersama-sama, sebagai warga dari pelbagai tradisi agama yang berbeda-beda, kita semua dipanggil untuk menyebar-luaskan suatu ajaran yang menghormati semua manusia sesama ciptaan, suatu warta cinta-kasih baik antar-pribadi maupun antar-bangsa. Secara khusus kita semua bertanggungjawab untuk menjamin, bahwa kaum muda kita yang akan memegang tanggungjawab atas dunia masa depan kita kelak, dibina dalam semangat yang sedemikian itu. Pertama-tama hal ini menjadi tanggungjawab keluarga-keluarga, kemudian juga mereka yang terlibat dalam dunia pendidikan, dan tentu saja juga para pemuka masyarakat, baik sipil maupun keagamaan. Mereka inilah yang berkewajiban untuk memperhatikan penyebar-luasan ajaran yang benar. Mereka inilah yang harus mengupayakan, agar setiap orang mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan lingkungannya yang khas, terutama pendidikan kemasyarakatan, yang mengundang setiap orang muda untuk menghargai mereka yang ada di sekitarnya dan untuk memandang mereka sebagai saudara dan saudarinya, sebab dengan merekalah ia dipanggil untuk hidup bersama setiap hari, bukan dengan sikap acuh-tak-acuh, melainkan justru dengan memberikan perhatian sebagai saudara. Dengan demikian, menjadi lebih mendesak dari masa sebelumnya mengajarkan kaum muda nilai-nilai fundamental kemanusiaan dan akhlak yang sangat penting bagi kehidupan pribadi dan komunitas. Oleh karena itu, juga segala bentuk ketidak-adaban yang terjadi harus dikaji untuk mengingatkan kaum muda akan apa yang menanti mereka dalam kehidupan sosial mereka kemudian hari. Yang dipertaruhkan di sini adalah kesejahteraan- bersama masyarakat, bahkan kesejahteraan- bersama seluruh dunia.

4.      Dalam semangat yang seperti itulah upaya dan peningkatan dialog antara Umat Kristiani dan Umat Islam harus dianggap penting, baik dari sudut pandang pembinaan maupun dari sudut pandang budaya. Dengan demikian maka dapat dikerahkanlah segala kekuatan untuk pelayanan bagi umat manusia dan kemanusiaan, sehingga kaum muda tidak menjadi kotak-kotak budaya atau agama yang bertentangan satu sama lain, melainkan menjadi sungguh-sungguh saudara dan saudari dalam kemanusiaan. Dialog adalah sarana yang dapat membantu kita untuk melepaskan diri dari lingkaran konflik yang tak berujung dan pelbagai ketegangan yang menandai masyarakat kita saat ini, sehingga semua bangsa dapat hidup dalam ketenangan dan kedamaian serta dengan saling menghargai dan terpadu dalam keharmonisan di antara kelompok-kelompok yang membentuk mereka. Untuk mencapai hal ini, dengan tulus hati saya menghimbau Anda sekalian untuk memperhatikan dengan saksama, apa yang saya sampaikan di atas, sehingga dengan adanya saling pertemuan dan pertukaran, Umat Kristiani dan Umat Islam akan bekerjasama dalam penghargaan satu terhadap yang lain demi terwujudnya perdamaian dan demi masa depan yang lebih baik bagi semua bangsa. Hal itu akan menjadi suatu contoh bagi kaum muda kita masa kini, contoh yang akan mereka ikuti dan teladani. Dengan demikian merekapun akan mendapatkan kepercayaan yang segar terhadap masyarakat dan melihat keuntungan bahwa mereka telah termasuk dan turut mengambil bagian dalam transformasi ini. Bagi merekapun pembinaan dan keteladanan akan menjadi sumber pengharapan bagi masa depan.

5.      Inilah yang menjadi harapan hangat yang dapat saya bagikan kepada Anda sekalian, yakni: bahwa Umat Kristiani dan Umat Islam akan terus melanjutkan peningkatan hubungan yang semakin akrab dan konstruktif, untuk dapat saling membagikan kekayaan khas masing-masing, dan bahwa keduanya akan sungguh memperhatikan mutu kesaksian dari Umat beriman mereka masing-masing. Sahabat-sahabat Umat Islam yang terkasih, sekali lagi saya menghaturkan salam terhangat saya pada saat Hari Raya Anda ini dan saya berdoa kepada Allah Raja Damai dan Belaskasih agar menganugerahkan kepada Anda semua kesehatan yang baik, kedamaian dan kemakmuran.

Jean-Louis Kardinal Tauran

Ketua

Uskup Agung Pier Luigi Celata

Sekretaris

PESAN PAUS BENEDIKTUS XVI UNTUK
PERAYAAN HARI PERDAMAIAN SEDUNIA 1 JANUARI 2006 ( +/- )

PERDAMAIAN DALAM KEBENARAN

1. DALAM PESAN TRADISIONAL untuk Hari Perdamaian Sedunia pada awal Tahun Baru ini saya menyampaikan salam hangat dan ucapan selamat kepada semua orang di manapun juga, terutama kepada mereka yang mengalami penderitaan sebagai akibat kekerasan dan konflik bersenjata. Salam saya penuh dengan pengharapan untuk dunia yang lebih tenang, dunia di mana makin banyak orang dan komunitas melibatkan diri bagi keadilan dan perdamaian.

2. Pertama-tama saya ingin mengungkapkan syukur saya yang mendalam kepada para Pendahulu saya, Paus-paus yang agung, Paulus VI dan Yohanes Paulus II, yang rajin memajukan perdamaian. Dengan dibimbing semangat Sapta Bahagia mereka me-nangkap dalam banyak peristiwa historis yang menyertai pontifikat mereka campurtangan penyelenggaraan Allah, yang tak pernah berhenti prihatin atas masa depan umat manusia. Sebagai bentara Injil yang tak kenal lelah, mereka senantiasa meng-undang setiap orang untuk berpangkal pada Allah untuk upaya mereka demi kerukunan dan perdamaian di seluruh dunia. Amanat pertama saya bagi Hari Perdamaian Sedunia ini dimaksudkan untuk mengikuti jejak ajaran mereka yang luhur; Dengan itu saya ingin mengulangi tekad tetap Takhta Suci untuk meneruskan pengabdiannya bagi perdamaian.
Nama Benediktus yang saya pilih pada hari pemilihan saya ke Takhta Petrus, adalah tanda komitmen pribadi saya bagi perdamaian. Dengan memilih nama itu saya ingin mohon Santo Pelindung Eropa, yang mengilhami peradaban perdamaian di seluruh benua, dan Paus Benediktus XV yang menolak Perang Dunia Pertama sebagai "pembantaian yang sia-sia belaka"1 dan bekerja untuk pengakuan universal; tuntutan tinggi perdamaian.

3. Tema yang dipilih untuk refleksi pada tahun ini - Dalam kebenaran terletak perdamaian - mengungkapkan keyakinan bahwa di mana dan bilamana pun orang diterangi cahaya kebenaran, mereka dengan sendirinya melangkah di jalan perdamaian. Konsitusi Pastoral Gaudium et spes, yang dipromulgasikan 40 tahun yang lalu pada penutupan Konsili Vatikan II, menyatakan bahwa umat manusia tak akan berhasil "membangun dunia yang insani sejati bagi setiap orang, di manapun di bumi, kecuali semua orang dibarui dalam roh dan bertobat kepada kebenaran perdamaian"2. Namun apakah arti kata-kata "Kebenaran perdamaian" itu sesungguhnya? Untuk menjawab pertanyaan ini secara tuntas, kita harus sadar bahwa perdamaian tak bisa ditipiskan menjadi tiadanya konflik bersenjata, melainkan harus dipahami sebagai "buah tatanan yang ditanam dalam masyarakat oleh Pendiri ilahinya", tatanan "yang harus diusahakan oleh umat manusia yang makin haus akan keadilan yang sempurna"3. Sebagai hasil tatanan yang direncanakan dan dikehendaki kasih Allah, perdamaian mempunyai kebenarannya sendiri yang tak terkalahkan, dan sesuai dengan "kerinduan yang tak tertahan dan pengharapan yang ada dalam diri kita"4.

4. Bila dilihat demikian, perdamaian nampak sebagai anugerah surgawi dan rahmat ilahi yang pada setiap tataran menuntut tanggungjawab tertinggi: yakni untuk menyesuai-kan sejarah umat manusia - dalam kebenaran, keadilan, kemerdekaan dan kasih - dengan tatanan ilahi. Dimana pun orang kurang setia akan tatanan yang mengatasi segalanya, dan orang kurang menghormati "tata bahasa" dialog yang adalah hukum moral universal yang tertulis dalam hati manusia5, bilamana pun perkembangan se-utuhnya pribadi manusia dan perlindungan hak-hak asasinya dihambat atau diingkari, bilamana pun orang-orang yang tak terbilang banyaknya dipaksa untuk menderita ke-tidakadilan dan ketidaksetaraan yang tak tertahankan, bagaimanakah kita dapat ber-harap bahwa perdamaian yang amat berharga itu akan diwujudkan? Unsur-unsur hakiki kebenaran yang mendasari nilai perdamaian itu tidak ada. Santo Agustinus melukiskan perdamaian sebagai tranquillitas ordinis6, ketenangan tatanan. Dengan itu dimaksudkannya keadaan yang memungkinkan kebenaran tentang manusia dihormati dan diwujudkan.

5. Siapakah dan apakah yang dapat menghalang-halangi kedatangan perdamaian? Kitab Suci, dalam buku pertama, Kitab Kejadian, menunjuk dusta yang dinyatakan pada awal sejarah oleh hewan dengan lidah mendua, yang disebut oleh Yohanes Penginjil "bapa dusta" (Yoh 8: 44). Berdusta adalah satu dari dosa yang diceritakan dalam bab terakhir Kitab terakir Kitab Suci, Kitab Wahyu, yang mengusir pendusta dari Yerusalem surgawi: "di luar.. ialah semua yang mencintai dusta" (22: 15). Berdusta dikaitkan dengan tragedi dosa dan akibatnya yang parah, yang mempunyai, dan tetap mempunyai akibat-akibat yang membinasakan hidup orang-orang dan bangsa-bangsa. Hendaknya kita ingat akan kejadian-kejadian abad yang lalu, ketika sistem-sistem ideologis dan politis yang sesat secara liar memerangi kebenaran dan menghasilkan eksploitasi dan pembunuhan jumlah tak terbilang orang-orang, melenyapkan semua keluarga dan komunitas. Sesudah pengalaman seperti itu, bagaimana mungkin kita gagal bersikap serius terhadap dusta di zaman kita, dusta yang merupakan kerangka adegan kematian yang mengancam di banyak bagian dunia. Setiap pencarian sejati perdamaian harus mulai dengan kesadaran bahwa soal kebenaran dan dusta menjadi keprihatinan setiap orang; hal itu amat menentukan masa depan damai planet kita.

6. Perdamaian adalah kerinduan kuat dalam hati setiap orang, lepas dari jatidiri budaya-nya. Maka dari itu setiap orang harus melibatkan diri dalam pengabdian perdamaian yang amat berharga ini dan berusaha mencegah setiap bentuk dusta, agar jangan meracuni hubungan-hubungan. Semua bangsa adalah anggota keluarga yang satu dan sama. Mengangkat perbedaan-perbedaan secara berlebihan bertentangan dengan kebenaran mendasar ini. Kita harus merebut kembali kesadaran bahwa kita mempunyai tujuan bersama yang pada akhirnya mengatasi segalanya, dan kita menerima perbe-daan historis dan kultural tidak dalam pertentangan, melainkan dalam kerjasama dengan orang-orang yang termasuk budaya lain. Kebenaran-kebenaran sederhana inilah yang memungkinkan perdamaian; kebenaran ini mudah dimengerti, bila kita mendengarkan hati kita dengan jujur. Dengan demikian pedamaian dilihat dalam cahaya baru: tidak sebagai tiadanya perang, melainkan sebagai hidup bersama para warga secara serasi dalam masyarakat yang diresapi keadilan di mana juga kesejahteraan se-tiap orang sebisa-bisanya diwujudkan. Kebenaran perdamaian memanggil setiap orang untuk membudayakan hubungan yang subur dan tulus ikhlas; dan membera-nikan mereka untuk mencari dan mengikuti jalan pengampunan dan rujuk kembali, untuk bersikap jujur dalam perundingan, dan setia melakukan apa yang telah dijanjikan. Secara khusus para pengikut Kristus yang mengetahui adanya keburukan yang menghadang dan kebutuhan akan pembebasan oleh Guru ilahi, penuh kepercayan berpaling kepada-Nya dalam pengetahuan bahwa "ia tak berbuiat dosa; dan tiada dusta di bibirnya" (1 Ptr 2: 22; bdk.Yes 53: 9). Yesus menyebut diri-Nya sendiri Kebenaran, dan, dalam berbicara dengan penglihat dalam Kitab Wahyu, ia menya-takan penolakan-Nya terhadap "setiap orang yang mencintai dan melakukan dusta" (Why 22: 15); Ia telah membuka kebenaran penuh tentang manusia dan sejarah umat manusia. Kekuasaan rahmatnya memungkinkan hidup "dalam" dan "dengan" kebenaran, karena ia sendiri seutuhnya benar dan setia. Yesuslah kebenaran yang memberi perdamaian.

7. Kebenaran perdamaian harus memancarkan sinarnya yang menyelamatkan juga di tengah tragedi peperangan. Para Bapa Konsili Vatikan II dalam Konsitusi Pastoral Gaudium et spes menunjukkan bahwa "tak setiap hal otomatis diperbolehkan antara pihak-pihak yang bermusuhan bila peperangan - yang harus disesalkan - mulai"7. Sebagai sarana untuk sebisa-bisanya membatasi akibat peperangan yang membina-sakan, terutama bagi penduduk sipil, komunitas internasional telah menciptakan undang-undang kemanusiaan internasional. Dalam aneka situasi dan pelbagai konstelasi, Takhta Suci telah mengungkapkan dukungannya bagi undang-undang kema-nusiaan ini, dan menyerukan agar undang-undang itu dihormati dan segera diwujud-kan, karena keyakinan bahwa kebenaran perdamaian ada juga di tengah peperangan. Undang-undang kemanusiaan internasional harus dipandang sebagai satu dari ungkapan terbaik dan paling efektif tuntutan intrinsik kebenaran perdamaian. Justru ka-rena itu hormat terhadap undang-undang itu harus dianggap mengikat semua bangsa. Nilainya harus dihargai dan pemenuhannya yang tepat dijamin; ia juga harus disesuaikan dengan keadaan sekarang dengan norma-norma yang dapat diterapkan pada skenario yang berubah dari konflik bersenjata dewasa ini dan penggunaan senjata yang paling baru dan paling mutakhir.

8. Di sini saya ingin menghaturkan terima kasih kepada organisasi-organisasi internasional dan kepada semua yang setiap hari melibatkan diri dalam aplikasi undang-undang kemanusiaan internasional. Dan saya juga tak lupa menyebut begitu banyak serdadu yang melibatkan diri dalam tugas peka mengatasi konflik dan memulihkan keadaan yang perlu untuk perdamaian. Saya ingin mengingatkan mereka akan kata-kata Konsili Vatikan II: "Semua yang menjadi tentera dalam mengabdi negerinya ha-rus melihat diri sendiri sebagai penjaga keamanan dan kemerdekaan sesamanya, dan, dengan melakukan tugas ini sebaik-baiknya, juga mereka memberi sumbangan bagi perdamaian"8. Pada front sulit ini Ordinariat Militer Gereja Katolik melaksanakan reksa pastoral: saya mendukung Ordinariat Militer dan para pastor militer untuk, da-lam setiap situasi dan konteks, berperan sebagai bentara setia kebenaran perdamaian.

9. Dewasa ini, kebenaran perdamaian terus dibahayakan dan ditolak oleh terorisme, yang ancaman kriminal dan serangannya menciptakan ketakutan dan ketidakamanan di dunia. Para Pendahulu saya Paulus VI dan Yohanes Paulus II seringkali menunjuk tanggung jawab mengerikan para teroris, seraya sekaligus menolak strategi mereka yang tak berperasaan dan mematikan. Ini seringkali merupakan buah nihilisme yang tragis dan meresahkan yang dilukiskan Paus Yohanes Paulus II sebagai berikut: "Mereka yang membunuh dengan tindakan terorisme membuat putus asa umat manusia, kehidupan dan masa depan. Dalam pandangan mereka segalanya harus dibenci dan dibinasakan"9. Bukan hanya nihilisme, melainkan juga fanatisme religius, yang dewasa ini juga disebut fundamentalisme, dapat mengilhami dan memberanikan pemikiran dan kegiatan kaum teroris. Sejak semula Yohanes Paulus II sadar akan bahaya eksplosif yang diwakili fundamentalisme fanatik dan ia menolaknya mentah-mentah, seraya mengingatkan melawan upaya memaksakan (dan bukannya hanya mengusulkan agar diterima dengan sukarela) keyakinan diri sendiri tentang kebenaran. Ia menulis: "Memaksakan kepada orang lain apa yang dianggap sebagai kebenaran, berarti, melanggar martabat manusia, dan akhirnya Allah sendiri yang mencipakan manusia menurut gambar-Nya"10

10. Bila dilihat lebih tepat, nihilisme dan fundamentalisme mempunyai hubungan salah dengan kebenaran: Penganut nihilisme mengingkari kebenaran, sedangkan penganut fundamentalisme mengira dapat memaksakannya dengan kekerasan. Kendatipun ber-beda asal-usulnya dan latar belakang budayanya, keduanya menunjukkan penghinaan yang membahayakan manusia dan hidup manusia, dan akhirnya menghina Allah sendiri. Hasil tragis bersama ini pada dasarnya timbul dari penjungkirbalikan kebenaran tentang Allah: nihilisme mengingkari eksistensi Allah dan penyelenggaraan-Nya dalam sejarah, sedangkan fundamentalisme fanatik merusak wajah-Nya yang penuh kasih dan kerahiman, menggantikannya dengan berhala yang mereka buat sendiri. Dalam menganalisa sebab-sebab gejala kontemporer terorisme, bukan hanya sebab-sebab politis dan sosialnya harus diperhatikan, melainkan juga motivasi kultural, religius dan ideologis yang lebih mendalam.

11. Mengingat risiko yang dihadapi umat manusia zaman kita, semua orang katolik di semua kawasan di dunia ini mempunyai kewajiban untuk lebih penuh mewartakan dan memberi kesaksian tentang "Kabar baik perdamaian", dan menunjukkan bahwa pengakuan kebenaran sepenuhnya tentang Allah merupakan syarat pertama dan mutlak untuk meneguhkan kebenaran perdamaian. Allah adalah Kasih yang menyelamat-kan, Bapa penuh kasih sayang yang hendak melihat anak-anak-Nya saling memandang sebagai saudara-saudari, bekerjasama untuk mengerahkan aneka bakatnya bagi pengabdian kepentingan umum keluarga umat manusia. Allah adalah sumber harapan pasti yang memberi arti kepada hidup pribadi dan komunitas. Allah, dan hanya Allah, menyelesaikan setiap karya baik dan perdamaian. Sejarah membuktikan lebih dari cukup bahwa pertentangan melawan Allah untuk mengenyahkan-Nya dari hati manusia, hanya menakutkan dan memiskinkan umat manusia dan membawa ke jalan buntu. Hal ini harus mendorong kaum beriman kristiani untuk menjadi saksi-saksi Allah yang secara tak terpisahkan adalah kebenaran dan kasih, untuk melibatkan diri dalam pelayanan perdamaian dalam kerja sama luas dengan orang-orang kristiani lain, para penganut agama lain dan dengan semua orang yang berkehendak baik.

12. Bila melihat situasi dunia dewasa ini, kita dapat dengan puas mensinyalir beberapa tanda pengharapan dalam upaya membangun perdamaian. Saya misalnya memikirkan berkurangnya jumlah konflik bersenjata. Meskipun masih menyangkut beberapa lang-kah percobaan menuju jalan perdamaian, namun langkah-langkah itu menjanjikan masa depan yang lebih tenang, terutama bagi rakyat Palestina yang menderita; negeri Yesus, dan bagi mereka yang hidup di beberapa kawasan Afrika dan Asia, yang su-dah bertahun-tahun menantikan hasil positif jalan pendamaian dan rekonsiliasi. Ada tanda-tanda meneguhkan yang harus dikukuhkan dan dimantapkan dengan kerjasama dan kegiatan tanpa lelah, terutama pada pihak komunitas internasional dan organ-organnya yang bertugas mencegah konflik dan mengusahakan solusi damai bagi mereka yang terlibat.

13. Namun segala itu tak boleh menimbulkan optimisme yang naif. Tak boleh dilupakan bahwa secara tragis konflik kekerasan antarsaudara dan peperangan yang membinasakan masih terus menyebarluaskan air mata dan kematian di kawasan-kawasan luas dunia. Ada situasi di mana konflik, bagaikan api dalam sekam, dapat berkobar lagi dan menimbulkan kehancuran besar. Otoritas-otoritas yang bukannya mengusahakan perdamaian, melainkan menghasut warganya untuk permusuhan melawan bangsa lain, memikul beban berat tanggungjawab: di daerah-daerah rawan konflik. Mereka membahayakan keseimbangan yang rapuh yang diperoleh dengan negosiasi yang sabar dan dengan demikian mereka membuat masa depan umat manusia men-jadi tidak pasti dan mengancam. Apakah yang dapat dikatakan tentang pemerintah yang mengandalkan senjata nuklir sebagai cara untuk menjamin keamanan negara mereka? Bersama dengan banyak orang yang berkehendak baik dapat dikatakan bahwa sudut pandangan ini tak hanya mematikan, melainkan juga sama sekali keliru. Dalam perang nuklir tak ada pemenang, melainkan hanya kurban. Kebenaran perda-maian menuntut agar semua - apakah pemerintah yang terbuka atau diam-diam memiliki senjata nuklir, atau merencanakan memperolehnya - setuju untuk mengubah haluan dengan keputusan jelas dan tegas, dan mengusahakan perlucutan senjata nuklir langkah demi langkah dan bersama-sama. Sumber dana yang tersedia dapat dipergunakan untuk proyek pengembangan yang menguntungkan semua bangsa, terutama yang miskin.

14. Sehubungan dengan ini hanya dapat dicatat dengan rasa muak bahwa pengeluaran dana untuk militer jelas terus meningkat dan perdagangan senjata berkembang, sementara proses politis dan yuridis yang diupayakan komunitas internasional untuk memajukan perlucutan senjata dibuang ke dalam kubangan sikap umum yang tak peduli. Bagaimana mungkin ada masa depan perdamaian bila masih ditanam modal ke dalam produksi senjata dan ke dalam penelitian untuk mengembangkan yang baru? Hanya dapat diharapkan agar komunitas internasional mendapatkan kebijaksanaan dan keberanian untuk sekali lagi bersama-sama dan dengan keyakinan yang dibarui, mengangkat proses perlucutan senjata, dan dengan demikian secara konkret menja-min hak atas perdamaian yang dinikmati setiap orang dan setiap bangsa. Dengan komitmen menjamin perdamaian, pelbagai organ komunitas internasional akan mem-peroleh otoritas yang mereka perlukan untuk membuat prakarsa mereka meyakinkan dan efektif.

15. Pihak pertama yang mendapat keuntungan dari pilihan yang menentukan bagi perlucutan senjata ialah negara-negara miskin, yang selayaknya menuntut, setelah mendengar begitu banyak janji, implementasi konkret hak mereka atas perkembangan. Hak itu secara meriah telah dikukuhkan dalam Sidang Umum PBB yang baru lalu, yang pada tahun ini merayakan ulang tahun pendiriannya ke 60. Gereja Katolik, seraya meneguhkan kepercayaannya pada badan internasional ini, menyerukan pembaruan institusional dan operasional yang memberdayakannya untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan yang telah berubah pada zaman ini, dan diwarnai gejala luas globalisasi. PBB harus menjadi sarana lebih efisien untuk memajukan nilai-nilai keadilan, solidaritas dan perdamaian di dunia. Pada gilirannya Gereja yang setia pada perutusan yang diterima dari Pendirinya, mempunyai komitmen untuk di mana-mana mewartakan "Kabar baik perdamaian". Dalam keyakinan teguh bahwa ia memberikan pelayanan yang perlu kepada semua yang memajukan perdamaian, ia mengingatkan setiap orang bahwa, bila perdamaian harus sejati dan berlangsung tetap, ia harus dibangun di atas wadas kebenaran tentang Allah dan manusia. Hanya kebenaran ini dapat menciptakan kepekaan akan keadilan dan keterbukaan akan kasih dan solidaritas, seraya memberanikan setiap orang untuk bekerja bagi keluarga umat manusia yang bebas dan serasi sejati. Dasar perdamaian sejati terletak pada kebenaran tentang Allah dan manusia.

16. Pada akhir pesan ini, saya ingin menyampaikan kata khusus kepada semua penganut Kristus, seraya mengundang mereka sekali lagi untuk menjadi murid Tuhan yang rajin dan murah hati. Bila kita mendengar Injil, saudara-saudara yang terkasih, kita belajar membangun perdamaian di atas kebenaran hidup sehari-hari yang diilhami perintah kasih. Setiap komunitas harus menjalani proses pendidikan yang luas dan menjadi saksi untuk membuat setiap orang lebih menyadari kebutuhan akan penghargaan lebih penuh terhadap kebenaran perdamaian. Sekaligus saya minta peningkatan doa, karena perdamaian terutama adalah anugerah Allah, anugerah yang harus dimohon tak kunjung henti. Dengan bantuan Allah, pewartaan dan kesaksian kita mengenai kebenaran perdamaian akan menjadi lebih meyakinkan dan menerangi. Dengan kepercayaan dan sikap pasrah keputraan marilah kita memandang Maria, Bunda Pangeran Perdamaian. Pada awal tahun baru ini marilah kita mohon dia untuk membantu seluruh umat Allah, di manapun mereka berada, untuk bekerja bagi perdamaian dan untuk dibimbing cahaya kebenaran yang memerdekakan (bdk.Yoh 8: 32). Melalui pengantaraan Maria semoga seluruh umat manusia tumbuh dalam penghargaan terhadap nilai dasar ini dan berusaha makin menghadirkannya dalam dunia kita, dan, dengan demikian, mempersembahkan masa depan yang lebih aman dan lebih tenang kepada generasi mendatang.

Dari Vatikan, 8 Desember 2005-12-22

Paus Benediktus XVI



1 Imbauan kepada para Kepala Bangsa-bangsa yang berperang (a Agustus 1917): AAS 9 (1917), 423.
2 No.77
3 Ibid.78
4 Yohanes Paulus II, Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2004, 9.
5 Bdk.Yohanes Paulus II, Amanat kepada Sidang Umum ke-15 PBB (5 Oktober 1995), No.3
6 De Civitate Dei, XIX, 13.
7 No.79
8 Ibid.
9 Pesan untuk Hari Perdamaian Sedunia 2002, 6
10 Ibid.

AMANAT PRAPASKAH PAUS YOHANES PAULUS II (+ / -)

PONTIFICIUM CONSILIUM COR UNUM
DEWAN KEPAUSAN COR UNUM

AMANAT PRAPASKAH PAUS YOHANES PAULUS II 2005

Mengasihi Tuhan.. berarti kehidupan bagimu dan lanjut umurmu (Ul 30:20)

Saudara-saudara yang terkasih!

1. Setiap tahun, masa Prapaskah diajukan kepada kita sebagai peluang yang baik untuk pendalaman doa dan tobat, seraya membuka hati kita terhadap sapaan lembut kehendak ilahi. Selama masa Prapaskah, digariskan perjalanan rohani yang mempersiapkan kita untuk menghidupkan kembali misteri agung wafat dan kebangkitan Kristus. Hal ini dilaksanakan terutama dengan mendengarkan Sabda Allah secara lebih saleh dan dengan melaksanakan mati-raga secara lebih rela hati; syukur dengan demikian kita dapat makin menolong mereka yang membutuhkan bantuan.
Pada tahun ini, saudara-saudara yang terkasih, saya ingin menarik perhatian anda pada tema yang agak lazim dan dijelaskan dengan baik oleh ayat dari Kitab Ulangan: "Mengasihi Tuhan..berarti kehidupan bagimu, dan lanjut umurmu.." (30: 20). Inilah kata-kata yang ditujukan Musa kepada umat, sambil mengundang mereka untuk mengikat Perjanjian dengan Yahwe di negeri Moab,
"..supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi Tuhan, Allahmu, mendengarkan suara-Nya, dan berpaut pada-Nya" (30: 19-20). Kesetiaan pada Perjanjian ilahi ini bagi Israel adalah jaminan masa depan: "untuk tinggal di tanah yang dijanjikan Tuhan dengan sumpah kepada nenek-moyangmu, kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka". Menurut pengertian Kitab Suci, mencapai usia tinggi adalah tanda kemurahan Yang Mahatinggi. Usia panjang nampak sebagai anugerah ilahi yang istimewa.
Tema inilah yang hendaknya anda renungkan selama masa Prapaskah ini, untuk memperdalam kesadaran akan peran kaum lanjut usia dalam masyarakat dan Gereja, dan dengan demikian mempersiapkan hati anda untuk selalu menyambut mereka penuh kasih. Berkat sumbangan ilmu dan kedokteran, dewasa ini nampak dalam masyarakat kurun waktu hidup manusia menjadi panjang dan sebagai akibatnya juga meningkatnya jumlah orang lanjut usia. Hal ini menuntut perhatian lebih khas terhadap dunia lanjut usia, untuk membantu para anggota masyarakat menghayati kemam-puan mereka sepenuhnya dengan menempatkan mereka dalam pengabdian seluruh komunitas. Perhatian bagi kaum lanjut usia, terutama bila mereka melewati saat-saat yang sulit, harus men-jadi keprihatinan semua orang beriman, terutama dalam komunitas gerejawi masyarakat barat, di mana hal ini sungguh dirasakan.

2. Hidup manusia adalah anugerah berharga untuk dicintai dan dibela pada setiap tahapnya. Perintah "Jangan membunuh", selalu menuntut upaya menghormati dan memajukan hidup manusia, sejak awal sampai akhir alaminya. Perintah ini tetap berlaku juga bila ada penyakit dan bila kelemahan fisik menyusutkan kemampuan seseorang untuk mandiri. Bila hal menjadi tua dengan segala kondisinya yang tak terelakkan diterima dengan tenang dalam cahaya iman, hal ini dapat menjadi peluang tak ternilai untuk lebih baik memahami misteri salib, yang memberi mak-na penuh kepada hidup manusia.
Orang lanjut usia perlu dipahami dan dibantu dalam padangan ini. Saya ingin di sini mengungkapkan penghargaan saya kepada mereka yang membaktikan diri untuk memenuhi kebutuhan ini, dan saya juga mengajak orang lain yang berkehendak baik untuk mengambil hikmah dari masa Prapaskah ini untuk membuat kontribusinya sendiri. Hal ini akan membantu banyak orang lanjut usia untuk tidak memandang diri sendiri sebagai beban bagi komunitas, dan kadang-kadang juga bagi keluarganya sendiri, hidup dalam kesepian yang menggoda untuk menyendiri atau kehilangan semangat.
Perlulah membangkitkan kesadaran dalam pendapat umum bahwa orang lanjut usia bagaimanapun juga menampilkan kekayaan yang harus dihargai. Karena alasan itu haruslah diperkuat dukungan ekonomis dan prakarsa legislatif yang memungkinkan mereka tidak dikucilkan dari hidup sosial. Sesungguhnya, selama dasawarsa yang lalu masyarakat telah menunjukkan perhatian lebih besar kepada kebutuhan mereka, dan kedokteran telah mengembangkan perawatan paliatif yang bersamaan dengan pendekatan integral kepada orang sakit, sungguh menguntungkan penderita yang lama sakit.

3. Waktu luang yang lebih besar pada tahap kehidupan ini memberi kepada orang lanjut usia kesempatan untuk menghadapi tema pokok yang mungkin dahulu kurang diperhatikan, karena kesibukan yang bagaimanapun juga dirasa mendesak atau harus didahulukan. Pengetahuan tentang kedekatan tujuan akhir mengajak orang lanjut usia untuk memusatkan perhatian pada apa yang hakiki, dengan mendahulukan hal-hal yang tak akan hancur dengan lewatnya jaman.
Justru karena keadaan ini, orang lanjut usia dapat mengembangkan perannya dalam masyarakat. Jika benar bahwa manusia hidup atas warisan pendahulunya, dan bahwa masa depannya tergantung sungguh pada cara bagaimana nilai-nilai budaya bangsanya diteruskan kepadanya, maka kebijaksanaan dan pengalaman orang lanjut usia dapat menerangi jalannya menuju kemajuan bentuk peradaban yang lebih menyeluruh.
Betapa pentingnya menemukan kembali proses memperkaya timbal balik antara pelbagai generasi! Masa Prapaskah yang menyerukan tobat dan solidaritas, pada tahun ini mengajak kita memusatkan perhatian pada tema-tema penting ini yang mengenai setiap orang. Apa yang terjadi apabila umat Allah mengikuti mentalitas tertentu yang menganggap orang-orang ini, saudara-saudara kita, sebagai hampir tak berguna bila kekuatannya menyusut karena kesulitan usia atau keadaan sakit? Sebaliknya, betapa lain masyarakat bila mulai dengan keluarga, selalu berusaha bersikap terbuka dan menyambut mereka.

4. Saudara-saudara yang terkasih, marilah kita selama masa Prapaskah ini, dengan dibantu Sabda Allah, merenungkan betapa pentingnya setiap komunitas mendampingi mereka yang menjadi tua dengan pengertian penuh kasih sayang. Selain itu orang harus menjadi terbiasa memikirkan misteri kematian dengan penuh kepercayaan, sehingga pertemuan definitif dengan Allah terjadi dalam suasana damai batin, dalam kesadaran bahwa Ia "yang membentuk aku dalam kandungan ibuku" (bdk.Mzm 139: 13b) dan yang menghendaki kita "menurut gambar dan rupa-Nya" (bdk.Kej 1: 26) akan menerima kita.
Maria, pemandu kita dalam perjalanan Prapaskah, membimbing semua orang beriman, terutama orang lanjut usia, ke pengetahuan yang makin mendalam tentang Kristus yang wafat dan bangkit, yang adalah tujuan terakhir hidup kita. Semoga ia, hamba setia putra ilahi-Nya, bersama santa Anna dan Yoakim, berdoa bagi masing-masing dari kita "sekarang dan pada waktu kita mati".

Berkatku bagi anda semua!

Vatikan, 8 September 2004

 

KOMENTAR / REFLEKSI DAN BAHAN LITURGI
HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-39 (+ / -)

Sesungguhnya, media mempunyai kemampuan yang begitu besar untuk memajukan perdamaian dan membangun jembatan antar bangsa-bangsa. Media dapat mengajar trilyunan manusia tentang bagian-bagian dunia yang lain serta kultur-budaya yang berlainan. Pengetahuan dan informasi yang tepat mengembangkan saling pengertian, mengusir purba sangka, dan membangkitkan hasrat untuk belajar lebih banyak lagi. (Paus Yohanes Paulus II, Pesan pada Hari Komunikasi Sedunia Ke-39)

Dalam pesan beliau tahun ini, Bapa Suci memfokuskan diri pada suatu topik yang sangat penting dewasa ini: hubungan antar bangsa dan budaya serta peran kunci yang bisa dimainkan media dalam memajukan perdamaian dan pengertian dalam usaha mereka sehari-hari.

Bila kita merenungkan kenyataan dewasa ini, kita tidak mungkin tinggal berpangku tangan berhadapan dengan situasi-situasi kritis dalam dunia kita. Seiring dengan pesan pada Hari Perdamaian Dunia, pesan ini mengundang kita semua, khususnya pada media-media komunikasi untuk mengabdi pada kesejahteraan umum-yang hanya dikonkretkan lewat usaha menjalin saling pengertian antar bangsa.

Bapa Suci mengingatkan kita bahwa bukan saja tindakan kita, tapi juga kata-kata dan bentuk-bentuk komunikasi yang lain membawa konsekuensi. Setiap orang harus menaruh perhatian pada pilihan kata-kata yang digunakan dan cara-cara menyapa orang lain, karena semuanya itu bisa mengembangkan persatuan, maupun bisa menciptakan perpecahan dan konflik.

Banyak konflik berakar dalam kecurigaan dan salah-pengertian antara bangsa yang satu terhadap yang lain, baik itu dekat maupun jauh lokasinya. Pandangan akan masyarakat demikian itu diciptakan dan dilanggengkan dalam banyak hal atas landasan informasi yang diperoleh lewat media. Pesan-pesan yang dipancarkan bisa menumbuhkan semangat solidaritas dan saling pengertian antar bangsa, namun juga bisa sebaliknya menciptakan kebencian dan perselisihan. "Bila orang lain digambarkan sebagai musuh dalam istilah-istilah yang melukiskan permusuhan, sudah tertanam lah benih-benih perselisihan yang bisa dengan mudah menjalar ke tindakan-tindakan kekerasan, perang, bahkan sampai genosida."

Oleh karena itu, Pesan ini memaksa kita untuk menghadapi hal-hal yang memberi jalan pada penggunaan alat media komunikasi secara tak bertanggung-jawab, yang begitu kuat pengaruhnya pada jiwa manusia.

"Gambar-gambar secara khusus mempunyai kekuatan untuk menanamkan kesan yang tahan lama dan untuk membentuk sikap. Media mengajar orang bagaimana memandang kelompok dan bangsa lain, secara lembut mempengaruhi bagaimana bangsa lain diperlakukan entah sebagai teman atau musuh, sekutu atau lawan."

Belum lama berselang, pada akhir tahun 2004 sebuah pengalaman sejuk yang menunjukkan bagaimana media bisa begitu efisien dalam memobilisasikan solidaritas bantuan untuk rakyat di Asia. Dalam pesannya, Bapa Suci menulis:

"Begitu membesarkan hati ketika melihat bagaimana komunitas internasinal begitu sigap bertindak menghadapi bencana tsunami baru-baru ini yang menelan korban yang tiada tara. Kecepatan tersebarnya berita dewasa ini tentu saja meningkatkan kemungkinan untuk mengambil tindakan praktis dan tepat waktu dalam memberikan bantuan secara maksimal. Dengan cara ini media dapat menghasilkan perbuatan-perbuatan baik yang begitu besar.

Dinamisme dalam komunikasi menunjukkan bagaimana informasi bisa dihimpun tepat waktunya dibutuhkan disertai keterlibatan yang sungguh-sungguh baik dari orang perorangan maupun masyarakat luas, serta bantuan yang melimpah dari kemurahan hati.

Dengan cara ini lah Paus Yohanes Paulus II senantiasa mengundang semua orang yang bekehendak baik untuk memberikan yang terbaik dari yang dimilikinya, untuk menjadi penganjur perdamaian di dunia yang ditandai dengan konflik. Undangan ini menjadi mendesak ketika diarahkan pada pria dan perempuan yang bekerja dalam bidang media. Beliau mengingatkan mereka bahwa komunikator yang terbesar yang patut dicontoh adalah Yesus Kristus sendiri:

"Sabda yang Menjelma telah mengikat suatu perjanjian baru antara Allah dengan rakyat-Nya-sebuah perjanjian yang juga mempersatukan kita satu sama lain dalam komunitas. "Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan" (Ef 2:14).

Merobohkan tembok-tembok pemisah dan membangun jembatan-jembatan adalah dua tantangan besar komunikasi yang kita semua hadapi, baik sebagai orang perorangan maupun sebagai professional dalam bidang komunikasi. Perlulah untuk bekerja sedemikian rupa sehingga tak seorang pun dipengaruhi oleh purbasangka atau menjadi sumber purbasangka itu sendiri, dan menjamin agar komunikasi diubah menjadi sarana "untuk mempererat ikatan-ikatan perhabatan dan cinta yang dengan jelas menandakan awal dari Kerajaan Allah di sini di bumi."

LITURGI

[Catatan: Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial hanya menyediakan Bacaan-Bacaan, Antar Bacaan, dan Doa Umat saja. Bagian-Bagian lain diserahkan pada kebijaksanaan setempat. Komsos KWI]

Pengantar:

Setiap tahun Bunda Gereja Katolik mengkhususkan suatu hari untuk Hari Komunikasi Sedunia. Sejak dirakan untuk pertama kali 1967, tahun ini adalah Hari Komunikasi Sedunia Ke-39. Tema yang diangkat tahun ini adalah "Peran Media Komunikasi dalam menjalin kerjasama dan saling pengertian antar bangsa manusia."

Dalam pesannya, Bapa Suci secara khusus mengingat peristiwa tsunami dan bagaimana media komunikasi bukan saja dengan cepat menyebarkan berita musibah terbesar di dekade ini, melainkan juga menggalang pemberian pertolongan secara cepat dan masal dari seluruh dunia, dari segala lapisan masyarakat, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat sipil.

Hari ini kita diajak untuk pertama, di tempat kita masing-masing menjalin saling pengertian di antara umat, dengan umat beragama lain. Kedua, kita juga diajak untuk berdoa agar sarana-sarana komunikasi digunakan untuk tujuan mulia tersebut.

BACAAN PERTAMA

Yes 11:1-9 "Serigala akan tinggal bersama domba" (ay. 6)

Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh TUHAN akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan TUHAN; ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.

Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.

Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.

Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.

MAZMUR ANTAR BACAAN (Mzm 67: 2-8)

/R Kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu. (ay. 4b)

Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa. /R

Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah; kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu. /R

Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. /R

Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu. /R

Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita. Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan Dia! /R

BACAAN KEDUA (Yak 3:2b-10)

"Lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. " (ay. 5)

Barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya. Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.

Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapa pun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar. Lidah pun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.

Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.

BACAAN INJIL (Mt 5:43-48)
"Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (ay. 44)

Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna."

DOA UMAT

IMAM: Menyadari kekuatan kata-kata dalam mempersatukan umat manusia satu dengan yang lain dan dengan Allah, kami memanjatkan doa-doa kami kepada Tuhan, pada hari yang dikhususkan untuk komunikasi dan mereka yang bekerja dalam bidang ini:

P: [Untuk Bapa Suci Paus Yohanes Paulus II, kiranya Tuhan memberikan kepada belkau terang dan kekuatan untuk memimpin Gereja dan semoga beliau menjadi teladan bagi kita semua dalam mewartakan kebenaran keselamatan dalam Yesus Kristus. Bersama Maria, kami mohon:]

U: Dengarkanlah doa kami, ya Tuhan.

P: Untuk Uskup kami dan para imam, semoga dengan kesadaran dalam melayani umat yang hidup dalam masyarakat yang amat dipengaruhi oleh media massa, mereka memperjuangkan kesatuan di antara komunitas kristiani sehingga semua orang percaya berkat kesaksian hidup mereka. Bersama Maria, kami mohon.

U: Dengarkanlah doa kami, ya Tuhan

P: Untuk para pemimpin politik, agar mereka mengemban tanggungjawab mereka dan mewartakan pesan-pesan yang memajukan kesatuan dan saling pengertian antar umat. Bersama Maria, kami mohon:

U: Dengarkanlah doa kami, ya Tuhan.

P: Untuk keluarga-keluarga, semoga kesatuan anggota keluarga semakin menonjol sehingga sinar mereka memancar ke luar dalam masyarakat, dengan demikian mengubah setiap tempat kerja menjadi keluarga manusia yang semakin besar.
Bersama Maria, kami mohon:

U: Dengarkanlah doa kami, ya Tuhan.

P: Untuk kaum muda, semoga karena semakin memperoleh informasi yang lebih tepat lewat media mereka berkembang dalam keterlibatan otentik dalam memajukan kesejahteraan umum.
Bersama Maria, kami mohon:

P: Bagi mereka yang mengambil komunikasi menjadi profesi, semoga mereka ingat bahwa pekerjaan mereka harus berakar dalam penyebaran kebaikan, keindahan dan kebenaran, serta memajukan, dewasa ini khususnya, sebuah kebudayaan yang mencintai kehidupan. Bersama Maria, kami mohon:

U: Dengarkanlah doa kami, ya Tuhan.

P: Untuk para guru dan pendidik generasi-generasi baru, semoga mereka tahu bagaimana memilih isi media yang memperkaya dan mendidik kaum muda. Bersama Maria, kami mohon:

U: Dengarkanlah doa kami, ya Tuhan.

IMAM: Tuhan, dengarkan doa-doa kami dan bantulah kami untuk menjadi pejuang-pejuang keadilan dan kebenaran di tempat kami masing-masing, melalui pewartaan kasih-Mu dengan hidup kami dan melalui sarana-sarana media komunikasi. Ini semua kami mohon dengan perantaraan Kristus,Tuhan kami. Amin.

 

PESAN BAPA SUCI YOHANES PAULUS II
PADA HARI KOMUNIKASI SEDUNIA KE-39 (+ / -)

Saudara dan Saudari,

1. Dalam Surat St. Yakobus kita baca "Dari mulut yang sama keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudariku, tidak boleh demikian terjadi" (Yak 3:10). Kitab Suci mengingatkan kepada kita bahwa kata-kata mempunyai kekuatan yang luarbiasa untuk mempersatukan orang atau untuk memecah-belah, untuk mempererat ikatan persaudaraan atau untuk mengundang perseteruan.

Hal ini tidak hanya terjadi dengan kata-kata yang diucapkan oleh seseorang kepada orang yang lain, melainkan juga berlaku dalam segala bentuk komunikasi. Teknologi modern memberikan kepada kita kemungkinan dan peluang yang tiada tara untuk perbuatan-perbuatan baik, untuk menyebarkan kebenaran keselamatan dalam Yesus Kristus serta untuk memelihara harmoni dan rekonsiliasi. Namun demikian penyalahgunaannya bisa membawa kerugian yang tak terperikan, dengan menimbulkan salah pengertian, prasangka-prasangka buruk, bahkan konflik. Tema yang dipilih pada kesempatan Hari Komunikasi Sedunia Ke-39-Media Komunikasi: Untuk Membangun Saling Pengertian"-membahas sebuah kebutuhan yang urgen, yakni untuk mengembangkan persatuan keluarga manusia dengan mendayagunakan sumber-sumber daya yang begitu besar.

2. Salah satu jalan yang penting untuk mencapai tujuan itu adalah pendidikan. Media dapat mengajar bertrilyun-trilyun manusia tentang wilayah-wilayah dunia yang lain serta kultur budaya yang lain. Cukup beralasan kalau media komunikasi disebut "Areopagus abad modern yang pertama . karena bagi banyak orang telah menjadi sarana-sarana utama untuk informasi dan pendidikan, tuntunan dan ilham dalam tingkah laku mereka sebagai pribadi, keluarga-keluarga, dan di tengah masyarakat luas" (Redemptoris Missio, 37). Pengetahuan yang tepat mengembangkan saling pengertian, mengusir purba sangka, dan membangkitkan hasrat untuk belajar lebih banyak lagi. Gambar-gambar secara khusus mempunyai kekuatan untuk menanamkan kesan yang tahan lama dan untuk membentuk sikap. Media mengajar orang bagaimana memandang kelompok dan bangsa lain, secara lembut mempengaruhi bagaimana bangsa lain diperlakukan entah sebagai teman atau musuh, sekutu atau lawan.

Ketika orang lain digambarkan dalam istilah-istilah permusuhan, benih-benih konflik telah disemaikan yang bisa dengan mudah meningkat dalam tindak kekerasan, peperangan, bahkan pembasmian suatu bangsa. Bukannya untuk membangun rasa persatuan dan saling pengertian, media bisa dipakai untuk mempersetankan kelompok-kelompok suku, agama, ras, dan antar golongan yang lain, dengan menghembuskan ketakutan dan kebencian. Mereka yang bertanggung-jawab dalam menentukan bentuk dan isi pesan yang dikomunikasikan mempunyai kewajiban yang berat untuk menjamin agar hal-hal di atas tidak terjadi. Sungguh, media mempunyai potensial yang begitu besar untuk mengajukan perdamaian dan membangun jembatan-jembatan antar bangsa, mematahkan lingkaran kekerasan yang fatal, balas dendam, dan tindak kekerasan yang baru yang begitu meluas dewasa ini. Menggunakan kata-kata St. Paulus, yang menjadi dasar bagi Pesan dalam rangka Hari Perdamaian Sedunia pada tahun ini: "Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan" (Rom 12:21).

3. Sumbangan dalam menciptakan perdamain itulah merupakan salah satu cara bagaimana media dapat mempersatukan umat manusia, sedangkan yang lain adalah pengaruhnya dalam memperlancar mobiliasi dana ketika terjadi bencana alam. Begitu membesarkan hati ketika melihat bagaimana komunitas internasinal begitu sigap bertindak menghadapi bencana tsunami baru-baru ini yang menelan korban yang tiada tara. Kecepatan tersebarnya berita dewasa ini tentu saja meningkatkan kemungkinan untuk mengambil tindakan praktis dan tepat waktu dalam memberikan bantuan secara maksimal. Dengan cara ini media dapat menghasilkan perbuatan-perbuatan baik yang begitu besar.

4. Konsili Vatikan II mengingatkan kita: "Untuk menggunakan media dengan tepat, sungguh perlulah bahwa siapa saja yang memakainya mengetahui norma-norma moral, dan di bidang itu mempraktekkanya dengan setia" (Inter Mirifica, 4). 

Norma moral yang dasar adalah: "Pribadi manusia dan komunitas umat manusia adalah tujuan dan ukuran dari penggunaan media komunikasi sosial; komunikasi harus oleh pribadi-pribadi, ditujukan kepada pribadi-pribadi, dan demi perkembangan pribadi-pribadi itu seutuhnya" (Ethics in Communications, 21). Maka lebih dahulu para insan komunikasi sendiri perlu mempraktekkan di dalam kehidupan mereka sendiri nilai-nilai serta sikap-sikap yang akan mereka tanamkan kepada orang lain sebagai bagian dari panggilan mereka. Khususnya, di situ harus termasuk kesediaan mereka untuk sungguh-sungguh melibatkan diri pada kebaikan umum-yang tidak hanya terbatas pada kepentingan-kepentingan yang sempit baik dari kelompok maupun bangsa tertentu, tapi memeluk kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan semua, kebaikan seluruh keluarga manusia (bdk. Pacem in Terris, 132). Para insan komunikasi mempunyai kesempatan untuk mengangkat budaya kehidupan yang sejati dengan menjauhkan diri dari konspirasi melawan kehidupan (bdk. Evangelium Vitae, 17) dan mewartakan kebenaran tentang nilai dan martabat setiap pribadi.

5. Model dan pola segala komunikasi terdapat dalam Sabda Allah sendiri. "Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya (Ibr 1:1). Sabda yang Menjelma telah mengikat suatu perjanjian baru antara Allah dengan rakyat-Nya-sebuah perjanjian yang juga mempersatukan kita satu sama lain dalam komunitas. "Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan" (Ef 2:14).

Saya berdoa pada Hari Komunikasi Sedunia tahun ini semoga para insan media memainkan peran mereka dalam merobohkan tembok-tembok pemisah perseteruan di dunia kita, tembok-tembok yang memisahkan penduduk dan bangsa satu dari yang lainnya, dengan menyuapkan salah pengertian dan kecurigaan. Semoga mereka menggunakan segala sumber daya yang ada dalam tangan mereka untuk mempererat ikatan-ikatan perhabatan dan cinta yang dengan jelas menandakan awal dari Kerajaan Allah di sini di bumi.

Vatikan, 24 Januari 2005, pada Pesta St. Fransiskus de Sales

Yohanes Paulus II

 

   
Email Sekretariat Paroki Kristoforus